Pola Hidup Konsumtif Kalangan Remaja di Mall Sebagai Bentuk Refleksi Pola Hidup

Sumber : SIPerubahan

Oleh : Darto Wahidin

Di tengah era globalisasi sekarang ini dan ditengah kondisi ekonomi yang tidak stabil mengakibatkan terus melonjaknya harga komoditas bahan pokok saat ini, pengendalian diri sangatlah penting. Sedini mungkin hendaknya menghindari pola hidup konsumtif. Sesungguhnya perilaku hidup konsumtif memiliki banyak dampak negatifnya dari pada dampak positifnya. Dampak negatif dari perilaku pola hidup konsumtif terjadinya pada seseorang yang tidak memiliki keseimbangan antara pendapatan dengan pengeluarannya (boros). Dalam hal ini, perilaku tadi telah menimbulkan masalah ekonomi pada keluarganya. Dampak lebih parah lagi jika pemenuhannya menggunakan cara yang tidak benar seperti korupsi dan tindak pidana lainnya.

Dewasa ini berbagai macam produk ditawarkan kepada konsumen. Produk-produk ini bukan hanya barang yang dapat memuaskan kebutuhan seseorang, tetapi terutama produk yang dapat memuaskan kesenangan konsumen. Informasi mengenai produk: baik melalui iklan, promosi langsung maupun penjualan secara langsung berkembang semakin bervariasi, gencar, dan menggunakan teknologi yang mutakhir dan canggih. Kebiasaan dan gaya hidup orang juga berubah dalam jangka waktu yang relatif singkat menuju kearah kehidupan mewah dan cenderung berlebihan, yang ujung-ujungnya menimbulkan pola hidup konsumtif.

Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumtif seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja. Di kalangan remaja yang memiliki orang tua dengan kelas ekonomi yang cukup berada, terutama dikota-kota besar, mall sudah menjadi rumah kedua. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga mengikuti mode yang beredar. Padahal mode itu sendiri selalu berubah sehingga para pelajar tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Alhasil, muncullah perilaku pola konsumtif.

Belanja adalah kata yang sering digunakan sehari-hari dalam konteks perekonomian, baik di dunia usaha maupun di dalam rumah tangga. Namun kata yang sama telah berkembang artinya sebagai suatu cerminan gaya hidup dan rekreasi pada masyarakat kelas ekonomi tertentu. Belanja juga punya arti tersendiri bagi remaja. Seiring dengan terjadinya perubahan perekonomian dan globalisasi, terjadi pula perubahan dalam perilaku membeli pada masyarakat. Terkadang seseorang membeli sesuatu bukan didasari pada kebutuhan yang sebenarnya. Perilaku membeli yang tidak sesuai kebutuhan dilakukan semata-mata demi kesenangan, sehingga menyebabkan seseorang menjadi boros. Perilaku ini dikenal dengan istilah perilaku konsumtif. Perilaku ini dapat terjadi pada setiap orang termasuk kaum remaja.

Pola konsumtif remaja, khususnya konsumsi khususnya produk-produk mall yang dapat memuaskan kebutuhan dan dapat memuaskan kesenangan konsumen akhir-akhir ini diperkirakan mengalami peningkatan. Produk-produk yang dapat memuaskan kebutuhan seseorang contohnya adalah produk makanan seperti McDonald, Kentucky, Fried Chicken (KFC), Pizza Hut, Popeye, A & W. Sedangkan produk yang dapat memuaskan kesenangan konsumen contohnya adalah bioskop 21 dan arena permainan Stingers. Remaja tertarik mengkonsumsi produk-produk itu karena untuk mengikuti trend anak muda. Oleh karena itu banyak produsen yang meningkatkan produksinya untuk memenuhi segmen pasar remaja.

Pola konsumtif merupakan salah satu bentuk refleksi gaya hidup yang banyak dipengaruhi oleh institusi ekonomi yang semakin canggih dan kompleks. Konsumsi mulai dari kebutuhan hidup yang benar-benar pokok sampai pada hal-hal yang berfungsi semata-mata untuk menambah kenyamanan hidup. Perbedaan status sosial ekonomi membedakan pola konsumsinya meskipun tidak jauh berbeda. Masyarakat dengan status sosial tinggi cenderung berpola konsumsi tinggi yaitu mengkonsumsi produk yang tidak melihat dari manfaatnya tetapi lebih melihat pada modenya. Kesadaran seseorang bahwa ia masuk dalam status yang tinggi, menyebabkan timbulnya keinginan untuk diakui statusnya. Dalam penampilannya sehari-hari, orang-orang yang berkelas sosial tinggi berusaha menampilkan atribut-atribut mewah sebagai simbol untuk menunjukkan status yang mereka miliki.

Hal ini tidak hanya dilakukan oleh mereka yang sudah memiliki penghasilan tetapi juga dilakukan oleh remaja yang belum memiliki penghasilan. Para remaja yang kebanyakan masih berstatus sebagai pelajar secara umum masih menggantungkan hidupnya kepada orang tua mereka sehingga mereka mendapatkan uang dari pemberian orang tua. Dalam hal ini tidak menutup kemungkinan pelajar berpola konsumtif tinggi berasal dari keluarga yang memiliki status sosial menengah ke atas. Tetapi ada pula pelajar yang dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan berusaha untuk mengikuti perkembangan zaman yang semakin modern.

Seiring dengan majunya teknologi bangsa dan era globalisasi yang terus berkembang, remaja Indonesia mau tidak mau mengikuti tren yang ada. Pola pikir tiap individunya pun harus siap untuk menghadapi tantangan global dengan adanya budaya-budaya baru yang masuk ke Indonesia. Globalisasi mengalami percepatan dengan dikembangkannya teknologi terutama teknologi informasi dan komunikasi, teknologi industri dan teknologi transportasi. Kemajuan-kemajuan teknologi itu tidak lepas dari pengamatan para kapitalis yang memang selalu mencari peluang untuk menghasilkan uang tanpa mengenal batas negara, ideologi atau agama, suku bangsa dan budaya, maupun moralitas.

Globalisasi juga membawa pengaruh dalam gaya hidup masyarakat, antara lain kehidupan mallam (dunai gemerlap), sex bebas (free sex), design setiap benda modern mengikuti design luar negeri, ramainya konsumsi masyarakat terhadap barang-barang asing seperti, makanan, minuman, fashion, dll. Sedangkan dalam kehidupan sosial, dampak yang ditimbulkan dengan adanya globalisasi adalah meningkat kejahatan internasional, misalnya penyelundupan baik barang terlarang (narkoba dan senjata api) maupun manusia (human trafficking) dan masuknya kejahatan terorisme dengan memanfaatkan lingkungan global serta meningkatnya nepotisme. Dengan era globalisasi, persaingan akan semakin ketat dalam masyarakat, khususnya dalam mencari pekerjaan. Terkadang, orang akan melakukan nepotisme untuk memperoleh suatu pekerjaan.

mall juga bisa diibaratkan sebagai sebuah jalan, dimana Starbucks, McDonald, Kentucky Fried Chicken (KFC), Pizza Hut, dan lain-lain sebagai tempat pemberhentian. Barang-barang konsumen yang bersifat keduniawian dan dibutuhkan sehari-hari kemudian diasosiasikan dengan kemewahan, keindahan, dan romansa kegunaannya menjadi kabur. Barang-barang yang berada dan di beli di mall mempunyai tanda yang lebih dan memberi kebanggaan pada pembeli dan pemakainya. Biasanya, dalam kehidupan sehari-hari, kita menemukan kebanggaan orang yang mengenakan barang yang dibeli di mall. mall menyediakangaya dan rasa, dengan memberi tempat bagi kesamaan dan ideologi individual konsumtif.

Menjumpai kaum remaja di mall-mall dan tempat perbelanjaan lainnya sekarang ini bukanlah masalah sulit. mall kini bukan sekedar tujuan orang berbelanja, namun sarat dengan arena fasilitas hiburan, bahkan menjadi sarana alternatif pengisi waktu luang dikalangan remaja untuk sekedar “cuci mata”, nongkrong dan ngerumpi. Suguhan yang ditawarkan di mall berupa mode fashion, aneka kuliner, aksesori dan berbagai hiburan cukup menggoda hati setiap pengunjung, khususnya kaum remaja. Di kalangan remaja yang memiliki orang tua dengan kelas ekonomi yang cukup berada, terutama di kota-kota besar, mall sudah menjadi rumah kedua. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar. Padahal mode itu sendiri selalu berubah sehingga para remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Alhasil, muncullah perilaku yang konsumtif.

Salah satu fakta dapat kita lihat salah satu mall di Surabaya, banyak sekali remaja yang berpakaian gaul dan modis dan terkadang cenderung berpakaian minim atau sexy agar menjadi pusat perhatian banyak orang. Seringkali demi mendapatkan pakaian, sepatu dan handphone model terbaru, kaum remaja sudah tidak lagi menghiraukan kondisi perekonomian orang tua mereka. Asalkan bisa terlihat keren atau gaul dan menjadi pusat perhatian, barang-barang tersebut di atas pasti mereka beli walaupun harganya mahal. Makan di McDonald, Kentucky Fried Chicken dan minum di Starbucks menjadi kebanggaan tersendiri bagi remaja-remaja pengunjung mall.

Situasi dan kondisi tersebut membawa pengaruh konsumtif bagi kaum remaja selaku pengunjung. Kaum remaja cenderung digiring menghabiskan uang sakunya untuk melampiaskan keinginannya. Rasa gengsi dan demi penampilan di hadapan rekan-rekannya, membuat mereka terbiasa saling mentraktir, mengadakan pesta ulang tahun atau hura-hura di mall atau cafe. Agar tampak lebih gaul, gaya hidup kaum remaja pun banyak mengadopsi model-model iklan atau pemain sinetron yang sedang trend. Perilaku konsumtif seperti itu sangat rentan bagi kaum remaja untuk terlibat dalamhal-hal negatif. Secara logika, perilaku konsumtif tanpa didukung dana memadai (uang saku) membuat remaja berusaha berbagai cara untuk memenuhi hasratnya.

Dalam hal ini, orang tua dituntut untuk sungguh-sungguh meningkatkan perhatian ekstra terhadap putra/putrinya yang beranjak remaja. Artinya adalah bahwa sebagai orang tua, orang tua harus menyediakan waktu yang intens untuk mereka, tanpa harus membatasi ruang lingkup mereka. Melihat, memantau, dan memperhatikan ruang gerak mereka dan sejauh mana mereka sudah berkembang. Di sisi-sisi lain, hal penting yang perlu untuk diperhatikan adalah sejauh mana orang tua bekerja sama dengan anak remajanya dalam membuat program khusus untuk pertumbuhan dan perkembangan anak-anak remajanya tersebut. Dalam usaha untuk mengatasi persoalan ini, beberapa “aksi” berikut ini mungkin akan cukupmembantu.

, membiasakan budaya menabung. Sejak usia dini, anak harus dibiasakan rajin menabung dari sisa uang jajannya. Dalam hal ini bukan orang tua yang sengaja menabung atas nama anaknya. Tujuannya adalah agar anak sejak usia dini dapat menghargai betapa susahnya berjuang mengumpulkan uang sedikit demi sedikit sehingga ia berpikir ulang ketika akan menggunakan uang tersebut. Kedua, menanamkan kemandirian sebagai upaya membentuk perilaku produktif. Hal tersebut bisa ditempuh dengan mengembangkan potensi aktual diri, minat, bakat, dan kreativitas. Keterampilan ini dapat menggungah anak remaja berpikir konstruktif dan produktif minimall berguna bagi dirinya sendiri.
, mengisi waktu luang dengan kegiatan positif, seperti mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, seperti pramuka, olahraga, kursus, dan kegiatan sosial. Biasakan anak aktif membaca dan kursus, sehingga anak remaja tak banyak bergaul dengan hal-hal negatif. Keempat, memberikan pemahaman agar anak remaja bersifat selektif, sehingga bisa membedakan mana kebutuhan urgen atau biasa, barang bermanfaat atau mubazir, memilih teman baik atau jelek. Kelima, adanya tata tertib yang tegas dan kontrol dari orang tua dan guru, sehingga anak remaja tidak sesuka hati dalam bertindak (tetap dalam norma).
Kerja keras orang produktif akan menghasilkan potensi diri yang tahan uji, ulet, mampu berkreasi dan inovasi serta mampu mencipta sesuatu untuk orang lain sehingga dapat tercipta generasi tangguh dan mandiri. Sebaliknya anak remaja yang berperilaku konsumtif akan menghasilkan generasi yang mempunyai tabiat selalu menuntut dan meminta, bermental ketergantungan, royal, mallas bekerja, dan mudah mengeluh. Dalam hal ini, kita semua turut ambil bagian dalam hidup kaum remaja. Maka, sebagai suatu “gerakan” yang mengarah kepada misi (baik intern maupun ekstren) yang perlu kita laksanakan adalah berpihak atau mengutamakan kaum muda. Berpihak dan mengutamakan kaum muda, khususnya remaja, adalah suatu tugas atau misi baru yang sangat kompleks dewasa ini.

Remaja yang antusias terhadap adanya hal yang baru. Gaya hidup bebas sangat menarik bagi mereka. Daya pikatnya sangat luar biasa, sehingga dalam waktu singkat muncullah fenomena baru akibat paham ini. Fenomena yang muncul, ada kecenderungan untuk lebih memilih hidup enak, mewah, dan serba kecukupan tanpa harus bekerja keras. Titel“remaja yang gaul dan funky” baru melekat bila mampu memenuhi standar trend saat ini. Yaitu minimall harus mempunyai handphone, lalu baju serta dandanan yang selalu mengikuti mode. Beruntung bagi mereka yang termasuk dalam golongan berduit, sehingga dapat memenuhi semua tuntutan kriteria tersebut.

Remaja mall memperlihatkan tanda, dimana tanda mengaburkan jenis kelaminnya dari apa yang dipakainya. Seorang wanita memakai celana pendek menunjukkan paha putihnya, sedangkan seorang laki-laki menunjukkan apa yang dipakainya sebagai penghalus wajah. Wajah mall sebagai tempat pertunjukkan diri akan tubuh indahnya, wajah lelaki dengan gaya metroseksualnya dan pertunjukkan mode dari Lea, Prada, Nevada, dan lain-lain yang dengan sombong menjahit atau menuliskan logonya pada bagian luar hingga dapat dilihat dan terbaca.

Adapun pertunjukan lain dengan pembelian logo yang bermerek seperti tersebut diatas dan pertunjukan tanda akan makan minum. mall-mall kini bagaikan kuil dengan segala atributnya, sedangkan barang-barang konsumsi bagaikan patung dewa. Dimana kartu kredit, ATM, atau uang tunai bagaikan bunga dan barang-barang sesajian lain. mall adalah jalan, ruang pesta yang penuh kegembiraan bagi remaja menunjukkan diri dengan apa yang mereka kenakan, tak peduli dengan rumah yang “tak menarik” atau menu makanan mereka di rumah.

Masyarakat konsumen Indonesia khususnya para remaja, tampaknya tumbuh beriringan dengan sejarah globalisasi ekonomi transformasi kapitaslime konsumsi yang ditandai dengan menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan bergaya semacam shopping mall, industri kuliner, industri mode atau fashion, industri gossip, berdirinya sekolah-sekolah berlabel “plus”, telepon seluler dan tentu saja serbuan gaya hidup lewat industri iklan dan televisi yang sudah sampai ke ruang-ruang kita yang paling pribadi dan mungkin ke relung-relung jiwa kita yang paling dalam.

Pada kenyataannya pola kehidupan yang disajikan adalah hidup yang menyenangkan secara individu. Inilah yang senantiasa didorong oleh hedonisme, sebuah konsep yang memandang bahwa tingkah laku manusia adalah mencari kesenangan dalam hidup. Ketika hedonisme sudah menjadi pegangan hidup para muda-mudi, banyak nilai-nilai luhur kemanusiaan para remaja luntur bahkan hilang. Kepekaan sosial mereka terancam tergusur karena mereka selalu mempertimbangkan untung rugi dalam bersosialisasi. Masyarakat terlihat seperti benda mati yang tak berguna bagi mereka kaum remaja. Akibatnya, ketika ada orang yang membutuhkan uluran tangan, mereka menyembunyikan diri dan enggan untuk berkorban.

 

Supported by :

Iklan